Konferensi Asia Afrika dalam Konteks Kemerdekaan Sebuah Negara

Sejak tanggal 19 April 2015 lebih tepatnya hari Minggu, Indonesia secara resmi memiliki sebuah acara besar yaitu peringatan 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika 2015. Sebuah acara yang memiliki kontribusi penting bagi negara-negara di Kawasan Asia-Afrika dalam menyingkapi dan mencari solusi dari berbagai permasalahan baik level Nasioanal maupun Internasional.

Saat pelaksanaan Konferensi Asia-Afrika pertama kali pada tahun 18-24 April 1955 di Gedung Merdeka Bandung, Indonesia yang diprakarsai oleh Indonesia, Myanmar (dahulu Burma), Sri Langka (dahulu Cevlon), India dan Pakistan, sudah kelihatan arah kontribusi dari Konferensi Bandung (sebutan lain KAA) bagi dunia Internasional yaitu bertujuan mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika dan melawan kolonialisme atau neokolonialisme Amerika Serikat, Uni Soviet, atau negara imperialis lainnya pada saat itu. Dan hasil dari persidangan awal ini berupa persetujuan yang berupa "DASASILA BANDUNG" Lebih detailnya dari tujuan diatas, salah satunya KAA berpengaruh besar terhadap perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa Asia-Afrika yang belum merdeka. Bangsa-bangsa Asia-Afrika yang merdeka sesudah diadakannya KAA, antara lain : Maroko, Tunisia dan Sudan (1956), Ghana (1957), Guyana (1958), Mauritania, Mali, Niger, Tugo, Dahomei, Chad, Senegal, Pantai Gading dan beberapa negara Afrika lainnya ( 1960 ).(Kebangkitan Bangsa Asia Afrika dari Bandung, www.koran-sindo.com)

Menurut kamus Tesaurus Bahasa Indonesia (Eko Endarmoko, Gramedia, 2006), kata kemerdekaan berarti Independensi, kebebasan, kedaulatan, kemandirian, otonomi. Sedangkan menurut Istilah berati di saat suatu negara meraih hak kendali penuh atas seluruh wilayah bagian negaranya. (http://id.wikipedia.org/wiki/Kemerdekaan).

Jika di tahun awal pelaksanaan KAA telah memberikan kontribusi bagi kemerdekaan beberapa bangsa-bangsa Asia-Afrika sebagaimana tersebut di atas, maka pada peringatan 60 Asian African Conference Commemoration Indonesia 2015 kali ini,  hal yang menarik penulis untuk membahasnya adalah adanya dukungan kemerdekaan bagi negara Palestina. Sebagaimana yang termaktub dalam 3 dokumen yang akan dihasilkan dalam pertemuan konferensi tersebut yaitu Bandung Confrence, New Asia-Africa strategic Partnership, Deklarasi (dukungan kemerdekaan) Palestina. Apabila dari deklarasi terhadap palestina ini disetujui dan mendapat respon dari PBB, maka akan semakin membuktikan bahwa keberadaan KAA sangat dibutuhkan bagi perdamaian dunia, mengingat polemik kemerdekaan Palestina (vs Israil), tidak hanya memakan waktu yang lama, akan tetapi juga mengorbankan banyak korban jiwa. Dan selama ini PBB pun tidak mampu untuk menanganinya. Maka dari itu, kemerdekaan Palestina adalah sebuah hasil yang sangat ditunggu-tunggu.

Menurut hemat penulis, keberlangsungan Konferensi Asia-Afrika saat ini (19-24 April 2015) hendaknya mampu juga menjadi pendorong terciptanya perdamaian dan kondisi aman dari situasi global saat ini. Apalagi dengan kondisi yang serba konflik di wilayah Timur-Tengah. Sebuah kondisi yang menyebabkan terjadinya korban berjatuhan dari warga sipil yang tidak bersalah, penghancuran berbagai situs purbakala, dan pemulangan banyak warga negara asing di wilayah konflik di Timur Tengah. Sudah saatnya semangat kemerdekaan suatu bangsa dijunjung tinggi dalam berbangsa dan bernegara di level Internasional. Janganlah karena kepentingan tertentu suatu bangsa kemudian mengorbankan bangsa lain demi terwujudnya kepentingan bangsa tersebut. 

Selamat memperingati konferensi Asia-Afrika ke 60 Tahun. Semoga keberadaanmu bisa menjadi pemenuhan harapan banyak negara khususnya di wilayah Asia-Afrika, dan seluruh dunia pada umumnya.!!!

Hayyan Najikh

Related Posts:

0 Response to "Konferensi Asia Afrika dalam Konteks Kemerdekaan Sebuah Negara"

Posting Komentar